Budidaya Belimbing

Belimbing dengan nama ilmiah Averrhoa carambola merupakan buah yang berasal kawasan Malaysia kemudian menyebar luas keberbagai negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Tanaman belimbing dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 10-12 meter. Tanaman belimbing dapat tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian sampai 500 mdpl dengan tempat penanaman terbuka dan mendapat sinar matahari yang memadai dengan intensitas penyinaran 45-50% namun juga toleran terhadap naungan. Belimbing memiliki beberapa manfaat penting bagi manusia dan juga lingkungan sekitar. Buah belimbing mengandung berbagai vitamin, diantaranya adalah vitamin A, B, C, glukosa, potein, lemak, kalsium, besi dan phospor. Buah belimbing dapat digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, susah buang air besar, malaria, dan dapat digunakan sebagai obat batuk. Selain bermanfaat bagi kesehatan manusia, tanaman belimbing juga bermanfaat bagi lingkungan, antara lain dapat menyerap gas-gas beracun dari kendaraan, dan menyaring debu.

Pembibitan

Bibit belimbing dapat dihasilkan dari proses generatif (biji) maupun vegetatif (okulasi, cangkok, susuan, enten). Penanaman dengan bibit yang dihasilkan dari proses vegetatif lebih dianjurkan karena daya tahan hidup yang lebih tinggi. Berikut ini langkah dalam membuat bibit belimbing dengan cara okulasi:

  1. Siapakan alat dan bahan yang terdiri dari pisau okulasi, gunting stek, batang bawah, cabang entres, tali rafia, dan sarana penunjang lainnya.
  2. Kerat (sayat) batang bawah pada ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah. Ukuran sayatan arah melintang 1,5 cm dan arah membujur 3 cm, kemudian tarik ke bawah hingga bekas sayatan menyerupai lidah. Potong sebagian lidah keratan tadi untuk tempat menempelkan mata entres.
  3. Kerat mata dari cabang enters dari bawah ke atas bersama bagian kayunya. Ukuran mata entres disesuaikan dengan sayatan batang bawah lalu lepaskan kulit bermata dari kayunya secara berhati-hati.
  4. Selanjutnya buka sayatan batang bawah kemudian tempelkan mata entres ke dalamnya hingga melekat.
  5. Setelah itu, balut hasil tempelan okulasi dengan tali rafia atau lembar plastik mulai dari bawah dan berakhir di bawah lagi.

Hasil okulasi dapat diperiksa setelah 7-15 hari kemudian. Bila mata entres berwarna hijau atau tanda-tanda segar berarti okulasi tersebut berhasil (tumbuh). Pemeliharaan bibit okulasi adalah dengan membuang tunas-tunas liar yang tumbuh dibawah mata tempel dan memotong ujung tanaman batang bawah tepat dibagian atas mata tempel secara bertahap. Tahap pemotongan tersebut adalah mula-mula setengah bagian, kemudian setelah mata tunas tumbuh kuat barulah dipotong seluruhnya.

Penanaman

Pertama tama buatlah lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm dengan kedalam 50 cm dengan jarak tanam 5 x 5 m. Tanah bagian atas selanjutnya dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Lubang tanam tersebut dibiarkan selama 2-4 minggu. Setelah cukup dianginkan, maka bibit hasil okulasi dimasukan kedalam lubang tanam dan ditutup dnegan tanah yang telah dicampuran pupuk kandang yang telah dibuat sebelumnya.

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penyiraman, penyiraman dilakukan secukupnya tergantung kondisi tanaman dan tanah sebab tanaman belimbing kurang menyukai air yang tergenang. Penyiangan, pembubunan dan perempalan juga perlu untuk dilakukan agar tanaman belimbing menghasilkan buah secara produktif, dan mendapatkan hasil yg maksimal. Penyiangan dilakukan dengan melakukan pemangkasan untuk membentuk tajuk tanaman agar tanaman tidak saling berhimpitan. Hal ini untuk mendorong produksi buah dan memudahkan pemanenan. Dalam memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tanaman belimbing maka perlu dilakukan pemupukan, pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk cair dan padat. Pemeliharaan terhadap serangan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan menyemprotkan pestisida yang disesuaikan dengan jenis hama atau penyakit yang menyerang tanaman belimbing. Untuk mengendalikan lalat buah, maka dapat dilakukan pembungkusan pada buah saat buah berumur 1 bulan dari bunga mekar.

Pemupukan

Pemupukan menggunakan pupuk organik padat, pupuk organik cair, zat pengatur tumbuh organik, dan nutrisi buah organik. Adapun fungsi dan dosis pada tanaman belimbing dari masing-masing yaitu :

  • Pupuk Organik Padat. Penggunaan pupuk organik padat menyesuaikan dengan umur dari tanaman. Untuk  aplikasi pada tanaman dapat dilakukan dengan cara dilarutkan dalam air kemudian disiramkan atau digemborkan secara merata. Keterangan dosis ditunjukan dalam tabel berikut:

  • Pupuk Organik Cair. Penggunaan pupuk organik cair yaitu diberikan dua minggu sekali dan diberikan dengan cara disiramkan pada tanaman. Untuk dosis penggunaan yaitu 3 tutup botol pupuk organik cair dilarutkan dalam 10 liter air disiramkan pada tanaman.
  • Zat Pengatur Tumbuh Organik. Penggunaan zat pengatur tumbuh organik yaitu dengan cara disemprotkan larutan pada daun dan batang sampai merata setiap dua minggu sekali. Peningkatan dosis disesuaikan dengan umur tanaman, Untuk dosis penggunaan yaitu larutkan zat pengatur tumbuh organik dalam air sebanyak 1 cc setiap satu liter air.
  • Nutrisi Buah Organik. Penggunaan nutrisi buah organik setiap satu bulan sekali. Larutkan pupuk ke dalam air secukupnya, sehingga dapat disiramkan di sekeliling batang tanaman. Untuk tanaman yang tanah kurang baik, lakukan pemupukan setiap 2 minggu sekali selama 6 bulan atau sampai tanaman menunjukkan perkembangan yang baik. Setelah itu lakukan pemupukan setiap 1 bulan sekali. Untuk dosis disesuaikan dengan diamer batang, seperti yang ditunjukan dalam tabel berikut:

Panen

Umur panen buah belimbing sangat dipengaruhi oleh letak geografis penanaman. Di dataran rendah yang tipe iklimnya basah, umur petik buah belimbing sekitar 35-60 hari setalah pembungkusan buah atau 65-90 hari setelah bunga mekar. Ciri buah yang sudah siap panen adalah ukurannya besar, warna buah berubah dari hijau menjadi kuning atau merah tergantung varietas.

Sumber Pustaka

Dinas Pertanian D.I Yogyakarta. Februari 2000. Belimbing (Averrhoa carambola). Diakses pada tanggal 30 juli 2018. http://distan.jogjaprov.go.id/wp-content/download/buah/belimbing.pdf. Rukmana, Rahmat. 1995. Belimbing. Jakarta: Kanisius

Leave a Reply