Budidaya Cabai Rawit

Cabe rawit (Capsicum frutescens) merupakan tanaman yang tak asing bagi masyarakat kita. Tanaman asli benua Amerika ini dikenal karena rasa pedasnya, rasa yang cenderung digemari masyarakat Indonesia. Tanaman ini paling cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 meter dpl. Meskipun begitu, cabe rawit bisa tumbuh baik hingga ketinggian 1000 meter dpl. Untuk tempat yang terlalu tinggi, produktivitas tanaman akan berkurang. Tanaman cabai rawit dapat tumbuh, baik pada daerah yang kurang hujan maupun yang sering hujan. suhu udara yang diperlukan tanaman ini adalah berkisar antara 250–310 C.

Penyiapan Bibit Cabai Rawit

  1. Rendam benih dalam larutan pupuk organik cair 2 cc/L air selama 12 jam, Buang benih yang mengambang.
  2. Benih ditiriskan dan dikecambahkan dengan tissue basah selama kurang lebih 3 hari. Setelah berkecambah benih siap disemai.
  3. Media semai berupa campuran tanah ayakan dan pasir dengan perbandingan 2 : 1, tambahkan pembenah tanah 50 gram untuk setiap 10 L media. Campur media sampai rata dan masukkan dalam polibag semai.
  4. Siram media dalam polibag dengan larutan Pupuk Organik Padat 1 sdm/4 liter air dan media siap digunakan.
  5. Benih ditanam dalam bedengan lebar atas 100 cm, tinggi 30-50 cm dan lebar antar parit 50 cm untuk melindungi benih yang baru tumbuh.
  6. Pemeliharaan bibit dilakukan dengan penyiraman, penyemprotan Pupuk Organik Cair dosis 2 cc/L, mulai umur 7 HSS (Hari Setelah Semai) setiap 1 minggu sekali. Bibit siap pindah tanam pada umur 21 – 30 HSS

Penyiapan Lahan dan Penanaman Cabai Rawit

  1. Tebar pembenah tanah dan dolomit secara merata, aduk-aduk, kemudian rapikan bedengan
  2. Siram dengan larutan Pupuk Organik Padat dan Nutrisi Buah. Dosis pembenah tanah 50 kg/ha, Dolomit 870 kg/ha, Pupuk Organik Padat dan Nutrisi Buah (1:1) 10 kg/ha
  3. Tutup bedengan dengan mulsa, siram air sampai jenuh, dan diamkan lahan 3 hari, setelah itu lahan siap ditanami.
  4. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 70 cm.

Pemeliharaan

  1. Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang mati maksimal 7 HST (Hari Setelah Tanam).
  2. Penyiraman dilakukan secara rutin dengan sistem rendam atau siram dengan melihat kondisi media.
  3. Pemasangan ajir dilakukan seawal mungkin setelah tanaman beradaptasi (7 – 14 HST) dan penalian dilakukan setelah tanaman bercabang untuk mencegah cabang patah karena menopang buah.
  4. Perempelan dilakukan terhadap bunga pertama dan tunas air yang tidak produktif.
  5. Penyemprotan Zat Pengatur Tumbuh, dilakukan interval 1 minggu dengan dosis 2cc/ltr. Untuk memacu pertumbuhan bunga dan mencegah kerontokan ditambahkan kalsium dengan dosis 0,3 gr per tanaman dengan interval 2 minggu sekali mulai 7 HST bersama dengan pemupukan.
  6. Jika tanaman sudah terserang bakteri atau tanda-tanda tanaman terserang bakteri, pada saat itu juga segera diaplikasikan bakterisida.
  7. Penyiangan dilakukan secara rutin dengan  melihat pertumbuhan gulma di lahan, begitu juga untuk mengantisipasi adanya HPT dilakukan penyemprotan dengan pestisida.
  8. Pemupukan susulan dilakukan 45X aplikasi mulai 7 HST interval 1 minggu sekali. Larutan pupuk susulan dengan mencampur pupuk makro, pupuk organik padat dan nutrisi buah, rendam selama  ±3 hari hingga pupuk larut.
  9. Larutan diencerkan dengan air untuk aplikasi di lapangan, pembuatan larutan pupuk susulan dilakukan 2 minggu sekali untuk 2x aplikasi

PANEN

Panen mulai ±4 bulan setelah tanam, setiap 3 hari sekali. Atau melihat kondisi buah cabai. Bisa panen sampai umur 1 tahun.  Budidaya yang baik bisa menghasilkan total produksi hingga 30 ton/ha. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Caranya dengan memetik buah beserta tangkainya.

Leave a Reply