Budidaya Jahe Merah

Jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) atau yang lebih dikenal jahe sunti merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan rimpangnya. Jahe merah memiliki ciri-ciri batang jahe merah berbentuk bulat kecil, berwarna hijau kemerahan, dan agak keras karena diselubungi oleh pelepah daun. Jahe merah memiliki keunggulan pada segi kandungan senyawa kimia dalam rimpangnya, karena mengandung gingerol, oleoresin, dan minyak atsiri sehingga banyak digunakan sebagai bahan baku obat. Jahe merah sebagai obat biasanya dimanfaatkan dalam bentuk minyak yang telah disuling. Selain itu, jahe merah dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada masakan sebagai penyedap, industry parfum, industri makanan, dan industry pembuatan minuman. Jahe merah juga bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan, mengatasi kepala pusing, rematik, batuk kering, masuk angina, bengkak, gatal-gatal, kolera, dan difteri. Jahe merah memiliki rasa yang sangat pedas dan aroma yang tajam, namun aromanya sangat harum.

Persemaian

Jahe merah disemai dengan cara yang sama dengan jahe pada umumnya, yaitu dengan menyemai pada kondisi ruangan yang terkendali suhu dan kelembapannya. Penyemaian dilakukan diatas hamparan jerami untuk menjaga kelembapan. Rimpang jahe hasil penyemaian dapat dipanen jika sudah berumur 1-2 bulan dengan panjang tunas yang tumbuh sepanjang 2-3 cm dan berat bobot benih berkisar 10-40 gram/rimpang.

Penanaman

Jahe merah dapat ditanam pada awal musim hujan, namun lokasi penanaman harus didukung oleh irigasi agar tidak perlu menunggu hingga awal musim hujan. Pola tanam jahe merah dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur. Jahe merah ditanam diatas tanah yang gembur dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm dengan kedalaman 5-10 cm, lalu ditimbun tanah sedalam 5 cm.

Pemeliharaan

Rimpang jahe merah yang telah ditanam, lalu dipelihara untuk menghindari kerugian dan produksi dibawah rata. Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyulaman setelah 2-3 minggu setelah tanaman untuk memastikan rimpang yang hidup atau mati, penyiangan untuk menghindari persaingan unsur hara dengan gulma dan menekan jumlah hama/penyakit yang memanfaatkan gulma sebagai inang, pengairan lahan dapat dilakukan secara manual maupun memanfaatkan hujan yang turun. Apabila jahe diganggu oleh OPT maka dapat dilakukan dengan penggunaan pestisida nabati berbahan dasar sirih yang mengandung antibiotic untuk mengendalikan penyakit busuk rimpang. Selain pestisida nabati, abu dapur sebanyak 150 gram/lubang tanam juga efektif dalam menurunkan intensitas penyakit layu pada tanaman gajah dan menguatkan sel tanaman karena mengandung P dan K.

Pemupukan

Pemupukan jahe merah dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik padat. Pupuk organik padat diperlukan karena banyak mengandung N, P, K, S, dan Mg yang bermanfaaat memperbanyak anakan dan rimpang, sedangkan kascing digunakan karena mengandung unsur hara mikro dan hormon auksin untuk memicu pertumbuhan tanaman, terutama dibagian pertunasan.

Panen

Jahe merah dapat dipanen pada umur 9-10 bulan (panen tua). Panen dilakukan dengan membongkar rumpun secara hati-hati menggunakan cangkul atau garpu. Rimpang yang telah dipanen lalu dibersihkan dari kotoran dengan air, dan dipelihara dengan baik untuk menghindari pertunasan secara tidak sengaja atau terserang hama dan penyakit.

Sumber Pustaka

Agromedia, R. 2007. Petunjuk Praktis Bertanam Jahe gajah. AgroMedia. Yogyakarta

Kardinan, I. A. (2003). Budi Daya Tanaman Obat Secara Organik. AgroMedia. Yogyakarta

Lentera, T. (2002). Khasiat dan manfaat jahe merah si rimpang ajaib. AgroMedia. Yogyakarta

Sudana, M., & Lotrini, M. 2012. Pengendalian terpadu penyakit layu (Ralstonia solanacearum Smith) dan nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) pada tanaman jahe gajah. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika5(2): 97-103.

 

 

Leave a Reply