Budidaya Markisa

Markisa merupakan buah yag berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia sendiri, terdapat dua jenis markisa yang biasa tumbuh antara lain markisa ungu (passiflora edulis) tumbuh di dataran tinggi dan markisa kuning (Passiflora flavicarva) tumbuh di dataran rendah.  Selain itu, ada juga varietas markisa yang tumbuh di di daerah Sumatera Barat yang disebut  sebagai markisa manis (Passiflora edulis forma flaviacarva). Buah yang kaya vitamin C ini mampu mencegah penuaan dini dan menjaga sistem kekebalan tubuh agar lebih kuat. Markisa kaya akan sumber zat besi yang berfungsi untuk menurunkan berat badan. Selain itu khasiat lain buah ini, mampu mengontrol tekanan darah karena kandungan kaliumnya. Meningkatkan sirkulasi darah karena mengandung besi dan tembaga.

Pembibitan

Pada umumnya budidaya markisa bisa diperbanyak secara generatif menggunakan biji maupun vegetatif dengan menggunakan stek batang dan sambung pucuk. Namun, Jurus Tani hanya akan mengulas teknik budidaya markisa dengan sambung pucuk saja. Selain mudah, teknik tersebut proses budidayanya lebih cepat. Perbanyakan dengan sambung pucuk, biasanya dilakukan dengan memanfaatkan dua jenis markisa. Markisa ungu dimanfaatkan sebagai batang atas karena memiliki batang kecil dan perakaran dangkal. Sedangkan batang bawah menggunakan markisa kuning karena batangnya yang cukup besar, tahan terhadap nematode dan penyakit layu fusarium.

Pengolahan Lahan

Markisa tumbuh subur pada tanah yang memiliki bahan organik tinggi, pH 6,5-7,5 drainase yang baik dan tanah yang gembur. Lakukan pengolahan tanah dengan cara membersihkan lahan terlebih dahulu, kemudian gemburkan tanah menggunakan cangkul. Buat lubang tanam ukuran 50 x 50 x 50 cm. Jarak tanam 3 x 4 m sampai 4 x 5 m. Diamkan selama 2 minggu, lahan siap ditanami.

Penanaman

Sebelum penanaman, media tanam dicampur dengan pupuk organik padat. Kemudian penanaman dilakukan setelah bibit markisa berumur 3 bulan. Saat tanaman berusia satu bulan, markisa mulai merambat sehingga perlu dibuatkan tiang rambatan atau penyangga. Ukuran penyangga biasanya setinggi 2-2,5 m setiap tanaman, kemudian buatkan lanjaran.

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan antara lain pengairan, penyiangan, pemupukan dan pemangkasan. Pengairan dilakukan teratur untuk menjaga pembungaan dan pembuahan terus-menerus, karena dapat berbuah sepanjang tahun. Penyiangan dilakukan jika terdapat gulma pengganggu. Markisa perlu dipupuk dengan pupuk organik padat dan pupuk buatan agar kualitasnya baik. Pupuk organik padat diaplikasikan pada saat tanam, selanjutnya setiap 6 bulan sekali. Untuk pemupukan yang setiap 3 bulan sekali, dilakukan dengan pemberian urea 50 g/pohon, SP-36 100 g/pohon, KCL 100 g/pohon dan NPK 50 g/pohon. Pemangkasan pertama kali dilakukan pada awal pertumbuhan, dengan cara menyisakan dua cabang utama yang akan dirambatkan. Cabang-cabang lain dipangkas hingga ketinggian 1 m dari pangkal batang. Pemangkasan cabang harus rutin dilakukan, karena buahnya dihasilkan dari cabang baru.

Pemanenan

Buah markisa dipanen setelah berumur 5-6 bulan atau 85-95 hari setelah bunga mekar. Warna buah berubah dari hijau menjadi kuning atau ungu. Jika dipencet akan terasa empuk. Markisa bisa dipanen secara manual dengan tangan, atau biasanya buah yang matang akan terlepas sendirinya dari tangkai.

Sumber pustaka :

Sudarso, Djoko dan Marlina, Leni. Budidaya Markisa. Badan Litbang Pertanian.

Karsinah, R.C. Hutabarat, dan A. Manshur. Agustus 2010. Jurnal Markisa Asam (Passiflora edulis Sims) Buah Eksotik Kaya Manfaat.                     http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/IPTEK/Karsinah_markisaasam.pdf 

Leave a Reply