Budidaya Bayam Hidroponik

Bayam merupakan tanaman sayuran dengan nama ilmiah Amaranthus tricolor L. Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika. Tidak hanya murah dan mudah diperoleh, nutrisi yang terkandung di dalam bayam juga amat tinggi. Bayam memiliki kandungan protein, kalsium dan zat besi yang lebih tinggi dibandingkan kandungan didalam sayuran selada dan kubis. Keunggulan nilai nutrisi sayuran bayam terutama pada kandungan vitamin A (beta-karoten), vitamin C, zat besi yang mampu mengatasi anemia (kekurangan darah). Selain itu kandungan hidrat arang bayam cukup tinggi dalam bentuk serat selulosa yang tidak tercerna. Serat yang tidak tercerna tersebut sangat penting peranannya dalam membantu proses pencernaan oleh lambung sehingga dapat mencegah segala bentuk gangguan lambung khususnya kanker lambung dan usus.

Penyiapan Luratan Nutrisi

Larutan nutrisi merupakan komponen terpenting yang dibutuhkan dalam budidaya secara hidroponik, sebab nutrisi inilah yang menjadi sumber makanan bagi tumbuhan.  Nutrisi yang paling sering digunakan ialah nutrisi AB Mix. Dosis yang digunakan yaitu setiap 1 liter air dicampur dengan nutrisi A dan B sebanyak 5 ml.

Pembibitan

Pertama tama pilihlah benih bayam yang berkualitas, sebab benih yang berkualitas akan mempengaruhi hasil dari kualitas tanaman. Kemudian siapkan media penyemaian benih berupa rockwool. Langkah selanjutnya, potong rockwool menjadi beberapa bagian yang berukuran kecil, setelah itu siram rockwool dengan air lalu tiriskan hingga rockwool menjadi lembab. Jika rockwool sudah dalam keadaan lembab maka benih yang sudah dipilih dapat diletakan kedalam rokcwool sebanyak minimal 10 biji. Setelah penyemaian dilakukakan maka rockwool yang sudah berisi benih bayam harus diletakan didalam ruang yang gelap selama 1 hari 2 malam dan rockwool harus selalu dalam keadaan lembab dengan cara menyiramnya dengan air biasa secara manual. Kemudian setelah itu, benih bayam yang sudah berkecambah dapat dipindahkan ketempat khusus peremajaan untuk mendapat sinar matahari yang cukup. Untuk menjaga kelembapan rockwool, maka selama proses peremajaan rockwool harus selalu dialiri air yang sudah dicampurkan nutrisi AB Mix sebanyak 3 hari sekali agar bibit dapat tumbuh. Hal ini dilakukan untuk mempermudah petani agar tidak menyiram secara manual.

Penanaman

Benih bayam yang sudah berkecambah atau yang sudah berumur 10-14 hari selanjutnya dapat dipindahkan kedalam konstruksi hidroponik. Perlu diketahui bahwa ada beberapa teknologi yang digunakan dalam konstruksi hidroponik, salah satunya NFT (Nutrient Film Technique). Pada sistem ini, sebagian akar tanaman terendam didalam air yang telah diberi nutrisi tanaman dan sebagian lagi berada diatas permukaan air yang bersirkulasi 24 jam secara terus menerus. Penting untuk diperhatikan dalam sistem NFT bahwa aliran listrik harus dalam keadaan stabil, jika tidak tanaman akan kekurangan nutrisi sebab nutrisi hanya bisa dijangkau oleh tanaman dengan pompa air. Apabila listrik mati, maka nutrisi tanaman tidak dapat terpenuhi. Lapisan air yang tipis mirip dengan lapisan film sekitar 3 mm menjadikan sistem ini disebut sebagai sistem NFT.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman bayam secara hidroponik dapat dilakukan dengan cara menyulam tanaman bayam yang mati atau bayam yang terserang penyakit jamur akar. Hal tersebut dapat membantu mencegah tanaman bayam yang masih sehat agar tidak terkontaminasi dari tanaman bayam yang telah terkena penyakit. Pengendalian hama dan penyakit lain yang dapat dilakukan ialah dengan cara menyemprotkan pestisida nabati atau membuang secara manual tanaman yang sudah terkena penyakit. Selain mengendalikan hama dan penyakit, pemeliharaan lain yang penting untuk diperhatikan ialah dengan menambahkan nutris minimal 3 hari sekali. Hal tersebut dilakukan agar tanaman bayam tetap mendapat asupan makanan yang memadai.

Panen

Tanaman bayam dengan sistem budidaya secara hidroponik dapat dipanen jika sudah berumur 20-25 hari dengan ciri-ciri daun yang sudah melebar dan berwarna hijau tua dan tanaman sudah tumbuh tinggi.

Sumber Pustaka

Sahat, Sudjoko dan Iteu M. Hidayat. 1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani di Indonesia. Bandung: Balitsa Litbang Pertanian

Leave a Reply