Budidaya Pagoda

Pagoda merupakan jenis sayuran yang masih termasuk ke dalam jenis sawi. Pagoda memang masih terdengar asing di telinga orang indonesia. Ciri khas tanaman ini adalah permukaan daun keriting dan warna hijau. Berat tanaman bisa mencapai 200 gram. Rasanya lezat dengan tekstur renyah, biasanya sayuran ini dimasak dengan cara ditumis atau dijadikan soup. Tanaman pagoda cocok tumbuh, di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian 250-1500 mdpl, tanah gembur, cukup sinar matahari, aerasi sempurna (tidak tergenang air) dan pH tanah 5,5–6. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman ini 20-28 ℃.

Persemaian

Benih disemai dalam baki plastik atau kayu  yang diberi media semai setebal ± 3 cm. Media tumbuh merupakan campuran pupuk kandang atau kompos halus dengan tanah berbanding 1:1. Media tumbuh dibasahi secukupnya secara merata, kemudian benih disebar secara merata dan ditutup dengan tanah halus setebal ± 1 cm. Setelah benih disebar kemudian ditutup dengan plastik hitam. Penutup dibuka setelah benih tumbuh merata (2-3 hari setelah sebar) dan benih berkecambah maka benih langsung ditempatkan ditempat yang terkena sinar matahari, karena jika tidak terkena sinar matahari maka benih akan kutilang atau etolasi. Etiolasi adalah pertumbuhan tumbuhan yang sangat cepat di tempat gelap namun kondisi tumbuhan lemah, batang tidak kokoh, daun kecil dan tumbuhan tampak pucat.

Tanaman dipindah Kurang lebih 7 hari setelah semai (berdaun 3-4 helai) di media sapih dalam pot. Media sapih diletakkan di lahan persemaian yang diberi naungan atap plastik berwarna putih. Bibit siap tanam di lapangan ± 10-15 hari setelah disapih.

Pengolahan tanah 

Tanah diolah dengan cangkul atau bajak kemudian dibuat bedengan/petak berukuran 1 meter x 5 meter. Dibuat lubang-lubang pada bedengan. Untuk penanaman menggunakan polibag atau pot minimal menggunakan ukuran 30-30 cm, untuk media sama dengan penanaman konvensional. Untuk penanaman dengan polibag atau pot disarankan untuk menambahkan cocopeat yang mampu menyimpan cadangan air.

Pemupukan

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman, maka perlu untuk dilakukan pemupukan. Pemupukan menggunakan pupuk makro, pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Adapun fungsi dan dosis pada tanaman dari masing-masing yaitu :

  • Pupuk Makro. Sebelum dimulai proses penanaman dilakukan pemberian pupuk makro sebagai pupuk dasar, setelah itu pemberian pupuk makro dilakukan lagi setelah tanaman sawi pagoda berumur 20 hari. Pupuk lanjutan diberikan di dekat tanaman dengan jarak 5 centimeter.
  • Pupuk Organik Cair. Penggunaan pupuk organik cair yaitu diberikan 10 hari sekali dan diberikan dengan cara disiramkan maupun disemprotkan pada tanaman. Untuk dosis penggunaan yaitu 3 tutup botol pupuk organik cair dilarutkan dalam 14 liter air disiramkan pada tanaman untuk lahan seluad 200 meter.
  • Pupuk Organik Padat. Penggunaan pupuk organik padat menyesuaikan dengan umur dari tanaman. Untuk  aplikasi pada tanaman dapat dilakukan dengan cara dilarutkan dalam air kemudian disiramkan atau digemborkan secara merata. Untuk detail penggunaan pupuk organik padat yaitu dilakukan sebelum olah tanah (luku-garu) dengan dosis 1-2 sendok makan yang dilarutkan dalam 10 liter air untuk luasan 10 meter persegi dan 14 hari setelah tanam dilakukan pemupukan lagi dengan dosis yang sama.

Penanaman dan perawatan

Penanaman bibit 1 tanaman per lubang dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Adapun pemeliharaannya meliputi pengairan, pemupukan susulan, penyiangan, pembumbunan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sawi pagoda memerlukan pengairan yang cukup selama pertumbuhannya, dan dilakukan penyiangan apabila banyak tumbuh gulma. Penyiraman sebaiknya dilakukan saat pagi dan sore hari.

Pengendalian Organisme Penganggu Tanaman (OPT)

OPT utama yang menyerang tanaman pagoda adalah ulat daun kubis dan belalang. untuk penanaman di kebun rumahan penanganan manual tentunya lebih aman daripada menggunakan perstisida. Pengecekan tiap hari tentunya akan meminimalisir serangan hama dan penyakit. Pengendaliannya dilakukan dengan cara sanitasi lahan, drainase yang baik, pemanfaatan diadegma semiclausum sebagai parasitoid hama plutella xlostella, penggunaan pestisida nabati, biopestisida, dan pestisida kimia bila diperlukan. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah tepat pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Panen

Sawi pagoda dapat dipanen pada umur ± 45 hari setelah tanam. Berat setiap tanaman bisa mencapai 200 gram. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabutnya dari akar, tangkai mudah patah jadi harus-hati-hati saat pengemasan.

Kajian Pustaka:

Anonim. 2017. Budidaya Pagoda. http://www.kebunrumahan.com/budidayapagoda.html. Diakses pada 27 Agustus 2018.

Moerhasrianto, P. 2011. Respon Pertumbuhan Tiga Macam Sayuran pada Berbagai Konsentrasi Nutrisi Hidroponik. Jember. Fakultas Pertanian,Universitas Jember

Leave a Reply