Budidaya Rosella di Lahan Pasir

Tanaman rosella atau yang mempunyai nama ilmiah Hibiscus sabdariffa L. Saat ini terdapat lebih dari 100 varietas rosella yang ada di seluruh dunia. Dua varietas yang paling terkenal adalah sabdariffa dan altissima webster. Bagian tanaman rosella yang yang paling banyak dimanfaatkan adalah kelopak dari bunga rosella yang keluar dari ketiak daun merupakan bunga tunggal, artinya pada setiap tangkai hanya memiliki satu bunga. Bunga ini memiliki 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangangya 1 cm dan berwarna merah. Tanaman rosella dapat tumbuh di daerah beriklim tropis ataupun sub tropis dengan ketinggian tempat 20-650 mdpl. Lahan berpasir biasanya banyak ditemukan di daerah pesisir pantai dan daerah gunung merapi. Lahan berpasir memiliki 70%  kandungan pasir yang miskin unsur hara, butirannya tidak kompak dan memiliki daya serap yang rendah. Tanaman rosella dapat di budidayakan di lahan berpasir dengan melakukan pengolahan lahan sebelum dijadikan media tanam.

Pembibitan

Dalam proses penanaman, tanaman rosella tidak membutuhkan penggunaan lapisan kedap. Hal tersebut dikarenakan tanaman rosella tidak memerlukan air yang menggenang untuk tumbuh. Sebelum ditanam biji rosella direndam dengan pupuk organik cair selama satu jam lalu dipilih biji yang tenggelam dengan bentuk butiran-butiran yang baik. Media semai berupa campuran tanah ayakan dan pasir dengan perbandingan 2 : 1, tambahkan pembenah tanah 50 gram untuk setiap 10 L media. Campur media sampai rata dan masukkan dalam polibag semai. Siram media dalam polibag dengan larutan Pupuk Organik Padat 1 sendok makan untuk setiap 4 liter air, dan tanam 1 biji per polibag dengan  kedalaman 0,5 cm. Tutup dengan tanah tipis dan siram secukupnya.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah yang dilakukan di lahan pasir berbeda dengan lahan biasa pada umumnya. Ada beberapa nutrisi yang dibutuhkan tanaman yang tidak ada di lahan pasir, sehingga diperlukan perbaikan fisik, kimia, dan biologi pada lahan pasir agar dapat menunjang keberhasilan penanaman rosella. Pengolahan tanah di lahan pasir dapat dilakukan dengan menambahkan pupuk organik padat sebanyak 20 kg/ha, pupuk organik cair sebanyak 15-29 lt/ha, pupuk F4 sebanyak 200 kg/ha, serta pembenah tanah sebanyak 250 kg/ha pada lahan pasir, hal tersebut bertujuan agar meningkatkan kesubururan tanah dan menambah unsur hara. Sebelumnya lahan pasir digemburkan terlebih dahulu lalu disiram hingga jenuh dan didiamkan selama dua minggu sambil tetap dijaga kelembapannya. Setelah dua minggu lahan pasir siap untuk digunakan. Setelah itu hampir sama dengan lahan pada umumnya, seperti membuat petakkan bedengan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lahan. Pada lahan berpasir petakkan bedengan dibuat mencekung kebawah agar meminimalisir air yang akan keluar.

Penanaman

Penanaman dengan jarak tanam 70 cm x 70 cm, populasi per 1000 m² : 1.850 tanaman (lahan efektif 90%).    Penyulaman dilakukan maksimal umur 14 hari setelah tanam, penyemprotan Pupuk Organik Semprot dosis 20 gr per tangki 14 L mulai umur 2 minggu setelah tanam, setiap 3 minggu  sekali.

Perawatan

  1. Penggunaan pemecah angin atau wind barrier. Penggunaan wind barrier bertujuan agar mengurangi kecepatan angin dalam pertanaman di lahan pasir. Pemecah angin sementara dapat memanfaatkan anyaman daun tebu atau kelapa, kasa nilon, dan jaring. Sedangkan untuk pemecah angin yang bersifat permanen dapat menggunakan tanaman tahunan seperti pohon cemara udang.
  1. Penyiraman. Tanaman rosella merupakan tanaman yang memiliki batang yang rentan patah. Pemberian air yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman rosella busuk hingga akhirnya mati. Namun, air yang terlalu sedikit juga dapat menyebabkan tanaman kekurangan air dan mengering. Jadi, sebaiknya penyiraman pada tanaman rosella diberikan secukupnya pada sore hari saja. Keterbatasan air dilahan pasir dapat disiasati dengan membuat sumur bor didekat kawasan pertanian. Jarak air tanah dilahan pasir cukup rendah, sehingga memudahkan dalam pembuatan sumur
  1. Penyiangan. Penyiangan pada tanaman reosella dilakukan ketika ada tanaman pengganggu atau rumput yang tumbuh di sekitar rosella. Hal ini dilakukan agar tidak ada kompetisi unsur hara antara tanaman rosella dengan tanaman penganggu atau gulma.
  1. Pengendalian hama dan penyakit. Sebelum tanaman rosella terserang hama dan penyakit dilakukan upaya pencegahan, sepertu membuat jadwal rutin pemberian insektisida dan fungisida. Insektisida diberikan untuk mencegah tanaman atau mengobati tanaman rosella dari kutu. Sedangkan fungisida diberikan agar tanaman rosella terhindar dari serangan jamur. Selain itu dapat juga melakukan pengendalian hama semi organik seperti menggunakan perangkap kepiting dibantu dengan semprotan kimia (Matacon). Serta pemberian paranet untuk menekan hama burung.
  1. Pemupukan. Selain pada awal masa tanam, pupuk organik padat juga diberikan saat tanaman rosella berumur 10 hari setelah masa tanam. Selain pupuk organik padat, pupuk organik cair juga juga penting diberikan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan memenuhi nutrisi yang dibututuhkan oleh tanaman. Pemupukan pada tanaman rosella diberikan sampai tanaman berumur 70 hari setelah masa tanam.

Panen

Tanaman rosella dapat dipanen setelah tanaman berumur 3,5-4 bulan. Dan dapat dipanen sampai 8-10 kali. Pemanenan dilakukan dengan memotong kelopak bunga yang sudah tua, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Ukuran kelopak bunga rosella yang sudah besar
  2. Mahkota bunga yang sudah mulai gugur
  3. Biji berwarna kecoklatan tua
  4. Kulit biji mulai menguning

 Sumber Pustaka

Pattisahusiwa, D. (2016). Lahan Pasir Miskin Unsur Hara Tapi Efektif.http://www.inspirasimakassar.com/lahan-pasir-miskin-unsur-hara-tapi    efektif/. Diakses pada 7 Juli 2018

Galih. (2009). Budidaya Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) Sebagai Makanan      Tambahan. http://galihrosydiansyah.blogspot.com/2009/12/budidaya-rosella      merah-hibiscus.html. Diakses pada 7 Juli 2018

Leave a Reply