Budidaya Terong Ungu

Tanaman terong (Solanum melongena) merupakan jenis sayuran tahunan semusim. Selain India, Indonesia dipercaya sebagai asal tanaman terong. Terung mengandung antioksidan pencegah kanker serta mampu mengikat kelebihan zat besi yang bisa meningkatkan resiko penyakit jantung. Terong tumbuh baik di dataran rendah pada suhu 27-30°C dengan jenis tanah lempung pasir, subur, kaya akan bahan organik. Tanaman yang cukup mudah dibudidayakan ini, cocok ditanam di musim kemarau.

Persiapan Bibit

Rendam benih dalam larutan Pupuk Organik Cair 2 cc/L air selama 12 jam, buang benih yang mengambang, benih ditiriskan dan dikecambahkan dengan tissue basah selama kurang lebih 3 hari, setelah berkecambah  benih siap disemai.

Media semai berupa campuran tanah ayakan dan pasir dengan perbandingan 2 : 1, tambahkan pembenah tanah 50 gram untuk setiap 10 L media. Campur media sampai rata dan masukkan dalam polibag semai. Media siap digunakan setelah penyiraman media dalam polibag dengan larutan Pupuk Organik Padat 1 sdm/4 liter air.

Penyiraman dilakukan secara rutin, disertai penyemprotan pupuk organik cair dosis 2 cc/L, mulai umur 7 HSS setiap 1 minggu sekali. Bibit  siap dipindahtanamkan pada umur 21 – 30 HSS.

Pemupukan Dasar dan Pemasangan Mulsa

Setelah pembuatan bedengan kasar, tebar Pembenah Tanah dan Dolomite secara merata, rapikan bedengan dan siram dengan larutan Pupuk Organik Padat dan Nutrisi Buah. Dosis Pembenah Tanah 50kg/ha, Dolomit  870 kg/ha, Pupuk Organik Padat dan Nutrisi Buah (1:1) 10 kg/ha (10gram Pupuk Organik Padat ditambah 10 ltr air, siram untuk 5 m panjang bedengan). Tutup bedengan dengan mulsa, airi sampai jenuh, diamkan lahan selama 3 hari dan lahan siap ditanami.

Penanaman dan Pemeliharaan

Bibit terong ditanam dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm, pemeliharaan seperti penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang mati maksimal 7 HST. Penyiraman secara rutin dengan melihat kondisi media. Pemasangan ajir dilakukan seawal mungkin setelah tanaman beradaptasi (7–14 HST) dan penalian pada ajir dilakukan setelah tanaman bercabang. Perempelan dilakukan terhadap bunga pertama dan tunas air yang tidak produktif. Penyemprotan Zat Pengatur Tumbuh, dilakukan interval 1 minggu dengan dosis 2cc/ltr.

Untuk memacu pertumbuhan bunga dan mencegah kerontokan ditambahkan kalsium dengan dosis 0,3 gr per tanaman dengan interval 2 minggu sekali mulai 7 HST (Hari Setelah Tanam)  bersama dengan pemupukan. Jika memang sudah terserang bakteri atau tanda-tanda tanaman terserang bakteri, pada saat itu juga segera diaplikasikan.

Penyiangan dilakukan secara rutin dengan  melihat pertumbuhan gulma di lahan, sedangkan untuk mengantisipasi adanya hama dan penyakit tanaman dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Pemupukan susulan dilakukan 20x aplikasi mulai 7 HST interval 1 minggu sekali. Terdiri dari pupuk makro, pupuk organik padat dan nutrisi buah.

Panen

Panen mulai ±3 bulan setelah tanam, setiap 3 hari sekali. Waktu yang tepat untuk panen adalah pagi dan sore hari. Buah dipetik dengan tangkainya. Buah terong tidak tahan lama, oleh karena itu harus segera dipasarkan begitu selesai panen. Sortasi untuk budidaya terong dilakukan berdasarkan ukuran dan warna buah.

Leave a Reply