Budidaya Timun Jepang

Timun Jepang yang dikenal dengan nama Zucchini ini ternyata memiliki begitu banyak manfaat. Dari tampilannya, sayuran ini terlihat tidak jauh berbeda dengan sayuran timun hijau yang ada di Indonesia.

Beberapa penelitian menunjukan Zucchini atau timun Jepang memiliki kandungan potasium sekitar 295 miligram per hari. Jumlah ini sama dengan 8% dari nilai harian standard sesuai kebutuhan tubuh. Manfaat lain juga dapat mengontrol tekanan darah sehingga akan mengurangi efek zat berbahaya seperti garam yang ada pada tubuh.

Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering, cukup mendapat sinar matahari, tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, pH tanah 6,5-7.

Penyiapan Bibit Timun Jepang

Persemaian dilakukan sebelum penanaman langsung di lapangan.

  1. Benih dibenamkan ke polibag ukuran 4 x 7 cm. Selama dalam persemaian, bibit disiram air 1–2 kali sehari. Sebelum disemai benih direndam dengan Zat Pengatur Tumbuh.
  2. Pindah tanam dilakukan setelah bibit berumur 10 hari, atau setelah memiliki 2–3 daun sempurna.
  3. Media semai berupa campuran tanah ayakan dan pasir dengan perbandingan 2 : 1, tambahkan pembenah tanah 50 gram untuk setiap 10 L media, campur media sampai rata dan masukkan dalam polibag semai.
  4. Siram media dalam polibag dengan larutan Pupuk Organik Padat 1 sdm/4 liter air dan media siap digunakan.
  5. Pemeliharaan bibit dengan penyiraman sesuai dengan kondisi media. Penyemprotan Pupuk Organik Semprot dosis 1,5 g /L mulai umur 7 hss setiap 1 minggu sekali, bibit siap pindah tanam pada umur 15 hss.

Pengolahan Lahan untuk Timun Jepang

  1. Pengolahan lahan dengan diluku dan garu dalam kondisi lembab, kemudian diamkan lahan selama 1 minggu.
  2. Bedengan untuk melindungi bibit dibuat dengan lebar 110 cm, tinggi 30 cm, dengan panjang menyesuaikan lahan, dan jarak antar bedengan 50 cm.
  3. Pemupukan dasar dilakukan setelah pembuatan bedengan selesai. Semua pupuk dicampur dan ditebar merata di atas bedengan, aduk dengan cangkul sampai rata, bedengan dirapikan kembali.
  4. Kemudian lahan disiram sampai jenuh, tutup dengan mulsa, diamkan 1 minggu, dan lahan siap digunakan.

Penanaman dan Pemeliharaan Timun Jepang

  1. Lubang tanam dibuat dengan jarak tanam (60 x 70) cm, tanam 1 bibit per lubang tanam, dan penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.
  2. Penyulaman dilakukan maksimal umur 14 hst
  3. Pengairan secara penggenangan atau disiram disesuaikan dengan kondisi lahan. Tanah tidak boleh terlalu becek atau terlalu kering.
  4. Pemasangan ajir dilakukan seawal mungkin setelah tanaman tumbuh.
  5. Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan dan melihat pertumbuhan gulma di lapangan.
  6. Semprot Pupuk Organik Cair dengan dosis 2 cc./L, mulai umur  10 hst – 70 hst  setiap 10 hari sekali. Pemupukan susulan timun jepang untuk luas lahan 1000 m²
Jenis pupuk Dosis (kg) dan waktu pemupukan
Dasar 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst Total
Pembenah Tanah 5 5
Dolomit 87 87
NPK 35 10 10 15 15 15 100
ZA 10 2 2 2 2 2 20
Pupuk Organik Padat 0.5 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 1
Zat Pengatur Tumbuh Dosis 2 cc/L air mulai umur 7 hst – 70 hst setiap 10 hari sekali 0.5 L

 

Keterangan :

– Pupuk makro kimia dan Pupuk Organik Padat dicampur sampai merata

– Aplikasi pupuk susulan dengan cara dikocor

Pemangkasan daun dilakukan pada umur 3 minggu setelah tanam    jika pertumbuhan tanaman terlalu subur. Pengendalian hama dan penyakit secara kultur teknis dengan sanitasi, penanaman serempak, dan pengaturan jarak tanam. Secara mekanis dengan menggunakan perangkap hama atau memotong bagian tanaman yang sakit. Secara kimia dengan menggunakan pestisida yang sesuai dengan hama atau penyakit yang ada.

Panen

Panen Timun Jepang dilakukan mulai umur 5 – 6 minggu setelah tanam atau tergantung varietas dan dilakukan 2 hari sekali.

Leave a Reply