Budidya Karet

Karet merupakan salah satu komoditas unggulan yang dimiliki oleh Indonesia. Komoditas ini menjadi pendukung ekonomi nasional karena berperan sebagai devisa negara. Tanaman karet berasal dari Amerika kemudian menyebar ke seluruh dunia. Diperkirakan di Indonesia memproduksi sekitar 3,4 juta, 85% di kelola oleh petani atau rakyat kecil, sisanya dikelola oleh swasta dan pemerintah. Tidak hanya sebagai bahan utama industri otomotif, ternyata karet memiliki manfaat lain yang masih jarang diketahui, tanaman ini berfungsi untuk mengurangi emisi rumah kaca. Pohon karet bisa menghasilkan oksigen untuk manusia dan menyerap gas karbonmonoksida yang penting dalam mengatasi efek emisi rumah kaca. Kayu yang bersifat mudah dibentuk, keras, bersih, dan awet menjadikannya sebagai bahan membuat meubel atau perangkat konstruksi rumah. Selain itu, karet ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai produk obat-obatan. Biji karet mengandung macam-macam senyawa dan nutrisi seperti lemak, air, protein, tiamin, asam nikotinat digunakan sebagai campuran bahan obat-obatan dan makananan. Semua bahan ini biasanya telah diolah dengan proses higiensi sehingga digunakan secara aman.

Pembibitan

Bibit unggul diperoleh dari teknik okulasi antara batang atas dan batang bawah, oleh indukan yang berkualitas tinggi. Dianjurkan untuk batang atas berasal dari karet klon PB 260, IRR 118, RRIC100 sedangkan batang bawah menggunakan bibit dari biji karet klon PB20, GT1, dan RRIC100 yang diperoleh dari pohon umur 10 tahun. Adapun tahapan perbanyakan dengan teknik okulasi yaitu :

a. Membuat Jendela Okulasi

  • Pilih batang bawah yang memiliki daun hijau tua dengan lilit batang 5–7 cm pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah. Lalu bersihkan.
  • Buat jendela okulasi ketinggian 5-10 cm dari permukaan tanah, caranya buat irisan tegak sepanjang 5-7 cm dan lebar sepertiga lilit batang.

b. Pembuatan Perisai Mata Okulasi

  • Buat perisai mata okulasi dari kebun entres (kebun batang atas) yang telah dipanen
  • Pilih mata okulasi yang terletak di bekas ketiak daun
  • Lakukan penyayatan pada kayu entres lebar 1 cm, panjang 5-7 cm dengan menyertakan sedikit kayu batangnya.
  • Lepas kulit kayu secara perlahan, usahakan tidak mengotor bagian dalam, karena bagian dalam terdapat titik putih yang menjadi mata entres dan siap ditempelkan.
  • Hasil okulasi berupa stum mata tidur, kemudian ditanam di polybag selama beberapa bulan. Setelah stum bertunass dan tumbuh hingga berumur 3-6 bulan, baru bisa dipindah tanam

c. Penempelan perisai mata okulasi

  • Tempelkan perisai mata okulasi dengan cepat setelah jendela okulasi dibuka
  • Tutup jendela okulasi, tekan dengan tangan, lalu balut dengan plastik yang sudah disiapkan. Pembalutan dimulai dari bawah bila bukaan jendela okulasi dari bawah, sebaliknya dibalut dari atas bila bukaan jendela okulasi dari atas.
  • Hasil okulasi kemudian ditanam pada polybag selama beberapa bulan. Setelah bertunas dan tumbuh atau sekitar umur 3-6 bulan bibit siap dipindahkan.

Pengolahan Lahan

Persiapan lahan dapat dilakukan dengan cara tebang-tebas-tanpa bakar. Sebenarnya ada beberapa teknik dalam persiapan lahan, namun tebang-tebas-tanpa bakarlah yang paling dianjurkan. Selanjutnya pengolahan lahan secara minimum atau seperlunya saja (sistem minimum tillage). Sistem ini dilakukan dengan membuat larikan antara barisan satu meter menggunakan cangkul selebar 20 cm. Alternatif lain bisa mengolah lahan secara mekanis namun tetap harus menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.

Penanaman

Pasang ajir untuk mengatur jarak tanam. Buat jarak tanam ukuran 7 m x 3 m pada area lahan yang relatif datar. Barisan lurus arah Timur-Barat berjarak 7 m sedangkan arah Utara-Selatan jaraknya 3 m.

Pasang ajir untuk mengatur jarak tanam. Umumnya jarak tanam 3 x 6 m (jarak tanam tunggal) atau 2,5 x 6 x 10 m (jarak tanam ganda).  Satu bulan sebelum penanaman, buat lubang tanam terlebih dahulu. Lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm bagian atas dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Selain pembuatan lubang tanam, menanam penutup tanah (cover crop) juga perlu dilakukan. Penutup tanah ini bertujuan menghindari terjadinya erosi, untuk memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah, mengurangi penguapan air, serta membatasi pertumbuhan gulma.

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang umum dilakukan untuk budidaya tanaman karet yaitu pemupukan, pengendalian gulma dan pengendalian hama penyakit tanaman.Untuk pemupukan bisa dilihat pada tahapan berikut ini:

Tanaman muda (0 – 1 tahun)

1 sdm pupuk organik padat, ditambah 20 gr urea, 10 gr TSP/SP36, 10 gr KCL. Pemupukan diulangi 3 bulan sekali. Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Penyemprotan pupuk organik cair dosisnya 2 cc/liter dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Tanaman Belum Menghasilkan ( 1 – 3 tahun)

5 sdm pupuk organik padat diencerkan dalam air secukupnya, kemudian diaplikasikan untuk 20 tanaman. Pemupukan diulangi 3 bulan 1x. Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Penyemprotan pupuk organik cair dosis 2 – 4 cc/liter dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Tanaman Menghasilkan

Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik padat :

Umur Tanaman (tahun)

Dosis Pupuk

(Sdm)

Jml Tanaman

(batang)

Interval aplikasi

(bulan)

Cara aplikasi

3 – 5

10 – 20 5 6 Pupuk ditebarkan disekitar tanaman

6 – 10

30 – 50 5 6
11 – 15 60 – 70 5

6

16 – 20 60 5

6

20 – 2 thn sebelum peremajaan 50 5

6

Catatan :

  • 1 sdm = 10 gr
  • Kebutuhan pupuk organik padat 10-15 kg/ha
  • Kebutuhan pupuk organik cair 10 – 15 kg/ha
  • Kebutuhan pupuk makro disesuaikan kondisi tempat.

Pengendalian gulma perlu dilakukan apabila terdapat rumput atau gulma penganggu pertumbuhan tanaman utama, baik pada saat tanaman belum menghasilkan (TBM) atau tanaman yang sudah menghasilkan (TM). Untuk pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara menyemprotnya dengan pestisida nabati.

Pemanenan

Produksi getah tanaman karet, tidak hanya ditentukan oleh kualitasnya namun juga teknik dan manajemen penyadapannya. Umumnya karet unggul menghasilkan getah pada umur 4-6 tahun, sedangkan karet lokal pada umur 8-10 tahun. Pemanenan karet bisa dilakukan jika batangnya memiliki lingkar minimal 45 cm dengan tinggi 100-130 cm dari atas permukaan tanah. Penyadapan tepat dilakukan pada saat mayoritas pohon karet memiliki lingkar tersebut atau sekitar 60% dari populasi tanaman.

Referensi :

Janudianto, et.al. 2013. Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar Informasi Agroforestry. Bogor.

Anwar, Chairil.2001. Manajemen Dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.

Leave a Reply