Perdebatan T(O)MAT, Bagaimana dengan Penyakit?

Sejak lama Tomat membuat manusia di muka bumi bimbang akan statusnya. Apakah Tomat termasuk buah atau sayuran?  Pertanyaan ini diperdebatkan setelah importir saling berargumen tentang tomat. Pasalnya, fakta tomat buah atau sayur mempengaruhi pajak yang dikenakan. Waktu itu tomat digolongkan sebagai buah bukan sayur sehingga tak dikenakan pajak impor. Sedangkan sayur dikenakan pajak impor 10 %. Perdebatan ini pun menarik perhatian pihak pengadilan Amerika, US Supreme Court untuk menggiringnya ke persidangan. Hingga akhirnya pengadilan memutuskan tomat bukan buah, melainkan sayur. Hal ini dipertegas dengan penggunaan tomat pada umumnya yang digunakan sebagai bahan masakan seperti sup, salad, dan sandwich.

Di Indonesia sendiri, tomat sangat mudah dijumpai. Selain itu, tomat cukup banyak digemari berbagai kalangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Konsumsi Buah dan Sayur Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016, Tomat menduduki peringkat atau urutan ketiga sebagai sayuran favorit dalam perkiraan total konsumsi nasional per tahun (dalam juta jiwa) sebanyak 1149.16 kilogram.

Di sisi pencapaian tersebut, serangan hama dan penyakit tanaman cukup menyita usaha keras petani. Terlebih di musim hujan seperti sekarang. Banyak hama maupun penyakit yang dengan mudah menghampiri tanaman tomat. Salah satu penyakit penting pada tanaman tomat ialah rebah kecambah. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa patogen cendawan, seperti Pythium sp, Rhizoctonia solani, Fusarium sp. dan Phytophthora sp. Indikasi awal serangan penyakit muncul yakni batang di atas tanah memar dan berair. Tanaman terkulai dan mati. Bila kembali seperti semula, batang di sekitar luka mengeras. Selain itu pertumbuhan terhambat. Serangan penyakit meningkat terutama saat musim hujan. Untuk itu diperlukan pengendalian penyakit tanaman tomat ramah lingkungan.

Salah satu pengendalian alternatif yang dapat digunakan ialah menggunakan agen hayati, cendawan trichoderma. Agen mampu berperan sebagai cendawan antagonis bagi patogen dan antibiosis bagi tanaman. Trichoderma disebut antagonis karena berkembang lebih cepat sehingga mampu menguasai tempat tumbuh. Akibatnya, cendawan patogen tidak mampu tumbuh dan berkembang baik karena kalah bersaing. Trichodema juga berfungsi sebagai dekomposer dalam pembuatan pupuk organik. Di mana pupuk organik yang dihasilkan memberikan dampak positif pada akar, pertumbuhan, dan hasil tanaman. Berikut cara pembuatan cendawan trichoderma:

Cara Pembuatan Trichoderma:

Pertama, siapkan bumbung bambu yang sudah dibersihkan dalamnya. Buatlah lubang sebesar jari kelingking di kedua ruas kiri dan kanan belahan bambu. Isi satu belahan bambu dengan nasi yang sudah dibiarkan semalaman. Kedua, satukan belahan bambu tersebut lalu ikat dengan plastik sampai rapat. Timbun di tanah subur atau humus sedalam 10-20 cm. Tutup kembali dengan tanah dan berikan tanda untuk mempermudah pengambilan. Diamkan selama 5-7 hari. Terakhir setelah didiamkan, ambil dan jika terlihat jamur seperti kapas, itu tandanya kita telah mendapatkan Trichoderma.

Cara Perbanyakan Trichoderma:

  • Beras atau jagung dimasak menjadi 1/3 masak kemudian dinginkan pada nampan yang telah disediakan.
  • Masukkan beras/jagung yang telah didinginkan ke dalam plastik bening sebanyak 10 sendok makan. Kukus kembali selama sepuluh menit.
  • Diamkan atau dinginkan pada nampan sampai benar-benar dingin. Sterilkan sendok dengan alkohol lalu gunakan untuk mengambil bahan induk Trichoderma. Selain itu tangan kita juga harus disterilkan.
  • Tambahkan trichoderma sebanyak 1/3 sendok makan pada masing-masing kantong plastik yang telah dikukuskan tadi. Kocok agar trichoderma tercampur dengan media. Simpan di ruangan steril dan tertutup. Setelah dua hari, aduk kembali. Setelah ± empat hari, trichoderma siap digunakan. Perbanyakan trichoderma berhasil apabila beras/jagung berubah warna menjadi hijau merata.

Cara Penggunaan Trichoderma:

Trichoderma diberikan secara merata pada tanah, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang. Sebaiknya, satu atau dua minggu sebelum penggunaan, campurkan 20-50 kg pupuk kandang dengan 100 g trichoderma. Diamkan selama 1-2 minggu di tempat lembab dan teduh. Trichoderma siap digunakan sebagai pupuk dasar sebanyak 2-2,5 ton/ha di lahan.

Penulis            : Tri Umi Asni

Rujukan         :

http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/64-bptp-bali7/566-trichoderma-sebagai-pestisida-alami-dan-dekomposer

http://yogya.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?view=article&catid=14:alsin&id=928:pengendalian-penyakit-moler-dan-layu-pada-tanaman-bawang-merah&format=pdf&option=com_content

http://sultra.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=260:teknologi-perbayakan-trichoderma-sp-untuk-pengendalian-penyakit-busuk-pangkal-batang-pbpb-tanaman-lada&catid=41:pertanian

http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2017/01/Paparan-BPS-Konsumsi-Buah-Dan-Sayur.pdf

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170615195937-262-222091/tomat-sayur-atau-buah-perdebatan-abadi-yang-kini-terjawab/

Leave a Reply