Trichoderma: Bangkit Lawan Antraknose

Bawang merah, bukanlah nama asing di ruang pendengaran. Mendengar bumbu dapur satu ini pasti teringat tentang masakan. Biasanya tanaman ini digunakan ibu-ibu di seluruh dunia sebagai bumbu penyedap masakan. Pastinya sebagai salah satu item wajib yang harus ada di dapur. Budidaya tanaman ini dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti daerah dingin, sub-tropis, maupun tropis. Indonesia merupakan salah satu negara iklim tropis dengan penghasil bawang merah terbesar di Asia Tenggara.

Dilansir dalam website resmi Kementerian Pertanian Republik Indonesia (29/08/17), Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura, Spudnik Sujono menyebutkan tahun 2016 luas panen bawang merah Indonesia mencapai 149,6 ribu ha. Diikuti produksi mencapai 1,45 juta ton. Serta luas tanam naik menjadi 22,5% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 target produksi bawang merah naik 17,7% dari tahun 2016. Untuk memenuhi target tersebut, tentunya petani tak jauh dari rasa was-was menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman. Menurut Nuryati (2011), kehilangan hasil akibat dari serangan hama bisa mencapai 57%. Hal itu karena terjadi sejak fase pertumbuhan sampai pematangan umbi.

Salah satu penyakit penting bawang merah ialah penyakit otomatis atau antraknose (Antracnose). Disebut penyakit otomatis karena tanaman yang terinfeksi mati dengan cepat, serentak, dan mendadak. Indikasi awal ditandai adanya bercak putih pada daun, terbentuk lekukan ke dalam, berlubang, dan patah karena terkulai tepat pada bercak tersebut. Infeksi berlanjut menyebabkan terbentuknya koloni konidia merah muda. Selanjutnya berubah menjadi cokelat muda, cokelat tua, dan kehitam-hitaman. Pada musim penghujan, konidia berkembang membentuk miselia. Ia tumbuh menjalar dari helaian daun, masuk menembus sampai ke umbi, menyebar di permukaan tanah, dan menginfeksi inang di sekitarnya. Setelah itu, umbi membusuk, daun mengering, dan hamparan tanaman terlihat gejala botak-botak di beberapa tempat.

Salah satu pengendalian alternatif yang dapat digunakan ialah menggunakan agen hayati, cendawan trichoderma. Agen mampu berperan sebagai cendawan antagonis bagi patogen dan antibiosis bagi tanaman. Trichoderma disebut antagonis karena berkembang lebih cepat sehingga mampu menguasai tempat tumbuh. Akibatnya, cendawan patogen tidak mampu tumbuh dan berkembang baik karena kalah bersaing. Trichodema juga berfungsi sebagai dekomposer dalam pembuatan pupuk organik. Di mana pupuk organik yang dihasilkan memberikan dampak positif pada akar, pertumbuhan, dan hasil tanaman. Berikut cara pembuatan cendawan trichoderma:

Cara Pembuatan Trichoderma:

Pertama, siapkan bumbung bambu yang sudah dibersihkan dalamnya. Buatlah lubang sebesar jari kelingking di kedua ruas kiri dan kanan belahan bambu. Isi satu belahan bambu dengan nasi yang sudah dibiarkan semalaman. Kedua, satukan belahan bambu tersebut lalu ikat dengan plastik sampai rapat. Timbun di tanah subur atau humus sedalam 10-20 cm. Tutup kembali dengan tanah dan berikan tanda untuk mempermudah pengambilan. Diamkan selama 5-7 hari. Terakhir setelah didiamkan, ambil dan jika terlihat jamur seperti kapas, itu tandanya kita telah mendapatkan Trichoderma.

Cara Perbanyakan Trichoderma:

  • Beras atau jagung dimasak menjadi 1/3 masak kemudian dinginkan pada nampan yang telah disediakan.
  • Masukkan beras/jagung yang telah didinginkan ke dalam plastik bening sebanyak 10 sendok makan. Kukus kembali selama sepuluh menit.
  • Diamkan atau dinginkan pada nampan sampai benar-benar dingin. Sterilkan sendok dengan alkohol lalu gunakan untuk mengambil bahan induk Trichoderma. Selain itu tangan kita juga harus disterilkan.
  • Tambahkan trichoderma sebanyak 1/3 sendok makan pada masing-masing kantong plastik yang telah dikukuskan tadi. Kocok agar trichoderma tercampur dengan media. Simpan di ruangan steril dan tertutup. Setelah dua hari, aduk kembali. Setelah ± empat hari, trichoderma siap digunakan. Perbanyakan trichoderma berhasil apabila beras/jagung berubah warna menjadi hijau merata.

Cara Penggunaan Trichoderma:

Trichoderma diberikan secara merata pada tanah, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang. Sebaiknya, satu atau dua minggu sebelum penggunaan, campurkan 20-50 kg pupuk kandang dengan 100 g trichoderma. Diamkan selama 1-2 minggu di tempat lembab dan teduh. Trichoderma siap digunakan sebagai pupuk dasar sebanyak 2-2,5 ton/ha di lahan.

Penulis            : Tri Umi Asni

Rujukan         :

http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/64-bptp-bali7/566-trichoderma-sebagai-pestisida-alami-dan-dekomposer

http://yogya.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?view=article&catid=14:alsin&id=928:pengendalian-penyakit-moler-dan-layu-pada-tanaman-bawang-merah&format=pdf&option=com_content

http://sultra.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=260:teknologi-perbayakan-trichoderma-sp-untuk-pengendalian-penyakit-busuk-pangkal-batang-pbpb-tanaman-lada&catid=41:pertanian

Leave a Reply